Showing posts with label AQIDAH. Show all posts
Showing posts with label AQIDAH. Show all posts

Etika Niat

Etika Niat


Abu Bakr Jabir al-Jazairi

Orang Muslim beriman kepada urgensi niat bagi seluruh amal perbuatan agamanya dan dunianya. Sebab, seluruh amal perbuatan menjadi terhormat dengannya, kuat-lemahnya tergantung padanya, dan baik-buruknya terkait dengannya.

Keimanan orang Muslim kepada urgensi niat bagi seluruh amal perbuatan, dan kewajiban perbaikan niat itu, pertama, berdasarkan firman-firman Allah Ta‘ala, misalnya,

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (Al-Bayyinah: 5).

"Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama’." (Az-Zumar: 11).

Kedua, berdasarkan sabda-sabda Rasulullah saw., misalnya,

"Sesungguhnya amal perbuatan itu harus dengan niat, dan setiap orang itu tergantung pada niatnya." (Muttafaq Alaih).

“Tidak melihat kepada bentuk fisik kalian, dan harta kalian, namun melihat kepada hati kalian, dan amal perbuatan kalian.” (Muttafaq Alaih).

Penglihatan kepada hati berarti penglihatan kepada niat, sebab niat adalah motivasi amal perbuatan. Sabda Rasulullah saw., "Barangsiapa ingin kepada kebaikan, dan ia tidak mengamalkannya, maka ditulis satu kebaikan untuknya." (Muttafaq Alaih).

Hanya karena keinginan yang benar saja, amal perbuatan menjadi baik kemudian mendapatkan pahala. Ini tidak lain karena keutamaan niat yang baik. Sabda Rasulullah saw.,

"Manusia terbagi ke dalam empat kelompok: (Pertama) orang yang diberi ilmu dan harta oleh Allah kemudian ia mengamalkan ilmunya pada hartanya ia menginfakkannya di jalannya. (Kedua) orang yang diberi ilmu oleh Allah, tapi tidak diberi harta, kemudian ia berkata, 'Seandainya aku mempunyai seperti yang dipunyai dia (orang pertama,), aku pasti berbuat seperti yang ia perbuat.' Rasulullah saw. bersabda, “Pahalanya kedua orang tersebut sama." (Ketia,) orang yang diberi harta oleh Allah, tapi tidak diberi ilmu, ia tidak bisa mengatur hartanya dan menginfakkannya tidak di jalannya. (Keempat) orang yang tidak diberi ilmu dan harta oleh Allah, kemudian ia berkata, 'Seandainya aku mempunyai apa yang dimiliki orang tersebut (orang ketiga), aku pasti berbuat seperti yang ia perbuat'. Rasulullah SAW bersabda, 'Dosa keduanya sama'." (Diriwayatkan lbnu Majah dengan sanad yang baik)

Pada hadits di atas, orang yang mempunyai niat yang baik dibalas dengan pahala orang yang mempunyai amal shalih, dan orang yang mempunyai niat yang rusak dibalas dengan dosa orang yang mempunyai amal yang rusak. Sebabnya, tidak lain ialah karena niatnya. Sabda Rasulullah saw. di Tabuk, "Sesungguhnya di Madinah, terdapat orang-orang yang tidak mengarungi lembah, tidak menginjak tanah yang membuat orang kafir marah, tidak berinfak dengan apa pun, dan tidak ditimpa kelaparan, namun mereka sama dengan kita, kendati mereka berada di Madinah." Ditanyakan kepada beliau, “Kenapa begitu, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. bersabda, "Mereka tidak bisa berangkat jihad karena udzur, kemudian mereka ikut kita dengan niat yang baik." (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Abu Daud).

Niat yang baik itulah yang membuat orang yang tidak bisa perang mendapatkan pahala orang yang berperang, dan orang bukan mujahid mendapat pahala mujahid. Sabda Rasulullah saw., "Jika dua orang Muslim bertemu dengan pedangnya masing-masing, maka pembunuh, dan orang yang terbunuh sama-sama masuk neraka." Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, kalau pembunuh betul, bagaimana dengan orang yang terbunuh?” Rasulullah saw. bersabda, "Karena ia juga ingin membunuh sahabatnya." (Muttafaq Alaih).

Niat yang rusak dan keinginan yang rusak disamakan pada pembunuh yang berhak masuk neraka dan orang yang terbunuh, sebab jika niat orang yang terbunuh itu tidak rusak, ia pasti masuk surga. Sabda Rasulullah saw., "Barangsiapa menikah dengan mahar dan berniat tidak membayarnya, ia pezina. Barangsiapa meminjam dan berniat tidak membayarnya, ia pencuri." (Diriwayatkan Ahmad).

Hanya dengan niat yang rusak, sesuatu yang mubah berubah menjadi sesuatu yang haram, dan sesuatu yang diperbolehkan menjadi sesuatu yang dilarang, serta sesuatu yang tidak ada kesulitan berubah menjadi ada kesulitan di dalamnya.
Ini semua menguatkan keyakinan orang Mukmin kepada urgensi niat dan nilainya yang agung.

Oleh karena itu, ia membangun seluruh amal perbuatannya di atas niat yang shalih, dan berusaha keras tidak mengerjakan amalan tanpa niat, atau niat yang tidak benar, sebab niat adalah intisari amal perbuatan dan pilarnya. Baik tidaknya amal perbuatan tergantung pada niatnya. Amal perbuatan tanpa niat menjatuhkan pelakunya ke dalam riya’ dan tercela.

Selain itu, orang Muslim meyakini bahwa niat adalah rukun amal perbuatan dan syaratnya. Ia meyakini bahwa niat tidaklah sekadar dengan lisan, misalnya mengatakan, "Allahumma nawaitu kadza (Ya Allah, aku berniat melakukan amal perbuatan ini)." Dan tidak pula hanya sekedar pembicaraan jiwa. Namun, niat adalah kebangkitan hati kepada amal perbuatan yang baik untuk tujuan mulia mendatangkan manfaat, menolak madharat yang terjadi sekarang, atau mendatang. Niat juga merupakan keinginan yang diarahkan kepada amal perbuatan untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala, atau melaksanakan perintah-Nya.

Ketika orang Muslim meyakini bahwa amal perbuatan yang mubah bisa berubah menjadi ketaatan yang berpahala dengan niat yang baik, dan bahwa ketaatan tanpa niat yang baik berubah menjadi maksiat yang mendatangkan dosa dan hukuman, maka ia tidak berpendapat, bahwa kemaksiatan itu tidak bisa dipengaruhi oleh niat yang baik dan untuk kemudian berubah menjadi ketaatan.

Jadi, orang yang menggunjing orang lain untuk menyenangkan hati orang lain adalah bermaksiat kepada Allah Ta‘ala, berdosa, dan niat yang baik tidak bermanfaat baginya. Orang yang membangun masjid dari uang haram tidak akan diberi pahala. Orang yang menghadiri pesta-pesta dansa (joget), dan cabul, atau membeli kupon undian dengan niat untuk membantu proyek-proyek kebaikan, atau membantu pendanaan jihad, dan lain sebagainya adalah bermaksiat kepada Allah Ta‘ala, berdosa, dan tidak mendapatkan pahala. Orang membangun kubah di atas kuburan orang-orang shalih, atau menyembelih hewan qurban untuk mereka, atau bernadzar untuk mereka dengan yangniat mencintai orang-orang shalih adalah berrnaksiat kepada Allah Ta‘ala, dan berdosa karena perbuatannya tersebut, kendati ia berpendapat bahwa niatnya adalah baik, sebab yang bisa berubah menjadi ketaatan dengan amal shalih ialah amal perbuatan yang boleh dikerjakan, sedang hal-hal haram, ia tidak bisa berubah menjadi ketaatan apa pun alasanny.Bersumber Dari www.alislamu.com

FENOMENA PERDUKUNAN,PARANORMAL

MUSLIM INDONESIA DI PERSIMPANGAN JALAN?! (1) (fenomena perdukunan, paranormal, dan batu petir)

Penulis : Al Ustadz Jafar Shalih

(dukun n adalah orang yang mengobati, menolong orang sakit, memberi jampi-jampi (mantra, guna-guna,dsb)…-http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php)

Dalam bahasa Arab dukun biasa diistilahkan dengan kahin, ‘arraaf, munajjim atau sahir (tukang sihir), yaitu orang yang mengaku mengetahui perkara gaib, menebak isi hati, membaca pikiran, nasib, masa depan, jodoh, orang hilang, benda hilang, dengan cara melihat bintang, telapak tangan, garis-garis dlsbnya, atau orang yang bekerjasama dengan jin dalam mencelakakan korban, memisahkan suami dengan istrinya atau menjadikan mereka akur kembali. Dan sekarang mereka dikenal juga dengan istilah paranormal, magician, Ilusionis, “orang pintar” dlsbnya.

Berkenaan dengan hal ini, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah menerangkan salah satu rambu untuk menjaga keutuhan Islam seseorang, pada sabdanya beliau berkata,

من أتى عرافا فسأله عن شيء لم تقبل له صلاته أربعين ليلة

“Barangsiapa mendatangi arraaf (dukun) dan bertanya kepadanya akan sesuatu, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam”. HR Muslim dari sebagian istri-istri Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Dan pada riwayat yang lain,

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa mendatangi kahin atau arraaf (dukun) dan dia membenarkan ucapannya maka dia telah kufur terhadap yang diturunkan kepada Muhammad (Al Quran)”. HR Ahmad dari Abu Hurairah Rhadiyallahu 'Anhu.

Arti arraf, dan kahin

Ibnul Atsir menjelaskan, yang dimaksud dengan arraaf (peramal) adalah ahli nujum atau “orang pintar”, yang mengklaim mengetahui ilmu gaib padahal hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang mengetahui persoalan gaib. Tukang ramal ini termasuk dalam kategori kahin (dukun)”.

Al Imam Al Baghawi menerangkan: Arraaf adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui perkara-perkara dengan cara-cara tertentu yang dipakai sebagai petunjuk akan barang hilang atau tempat hilangnya barang dan semisalnya. Sedangkan kahin adalah orang yang memberitahu akan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dan pendapat lain mengatakan kahin adalah orang yang mengetahui apa yang ada di dalam hati (mengetahui isi hati/membaca pikiran).

Makna hadits

Ke dua hadits ini memuat ancaman Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam terhadap dua jenis golongan manusia. Yang pertama, mereka yang datang kepada dukun/paranormal sebatas untuk bertanya. Dan yang ke dua, mereka yang datang, bertanya dan percaya. Masing-masing keadaan ini diberitakan baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam redaksi yang berbeda dan dengan akibat yang berbeda pula.

Adapun yang pertama, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengancam dengan ancaman, “tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam”.

Al Imam An-Nawawi Rahimahullah menjelaskan; Adapun tidak diterimanya shalat (orang yang bertanya kepada dukun selama empat puluh malam), artinya tidak ada pahala untuk dia, meskipun shalat yang dilakukannya dianggap sah dan tunai kewajibannya dan tidak perlu baginya mengulangi shalatnya. (Syarah Shahih Muslim)

Dan golongan yang ke dua, “maka dia telah kufur terhadap yang diturunkan kepada Muhammad”. Dan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah Al Qur’an dan kufur terhadap Al Qur’an, berarti keluar dari Islam atau murtad.

Dan apabila kita memperhatikan fenomena di tanah air, perdukunan dan paranormal bukanlah barang haram yang harus dijauhi. Lihat saja berapa banyak iklan-iklan praktek perdukunan dan usaha-usaha klenik di koran-koran dan majalah-majalah yang beredar. Praktek-praktek ini begitu laris manis di tengah-tengah masyarakat muslim yang menjadi pasien mereka.

Dan tengoklah lebih jauh lagi, kita akan dapati sederetan nama-nama populer dalam barisan dukun/paranormal yang berhasil menipu jutaan pemirsa ummat Islam melalui acara-acara penyesatan yang disponsori stasiun-stasiun televisi dan iklan-iklan haram, yang menawarkan solusi kehidupan. Sebut saja seperti Mama Laurent yang katanya bisa membantu peruntungan, meramal masa depan, membaca pikiran, mengetahui isi hati, dlsbnya. Belum lagi nama-nama beken lainnya seperti Deddy Corbuzier, Romi Raffael, Ki Joko Bodo dan selain mereka.

Jelas ini merupakan realita yang menyedihkan. Bagaimana tidak, Indonesia yang merupakan negera berpenduduk muslim terbesar, ternyata merupakan ladang subur bagi penyebaran virus-virus kekufuran. Muslim Indonesia di persimpangan jalan?!

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

“Katakanlah:"Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan”. (Qs. An-Naml: 65)

Dan dia berfirman tentang nabi-Nya,

قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah:"Aku tidak berkuasa menarik kemanfa'atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (Qs. Al A’raaf: 188)

Apabila sebaik-baik makhluk, penghulu para nabi, manusia pilihan, kekasih Allah Subhanahu Wa Ta'ala saja tidak mengetahui perkara gaib, apalagi selain beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam dari manusia-manusia biasa yang kebanyakan mereka adalah orang-orang kafir, atau meninggalkan shalat, banyak melakukan maksiat. Kemana perginya akal kebanyakan ummat! Hasbunallahu wa ni’mal wakiil http://www.mimbarislami.or.id/.

-

 
Matursuwun Kagem. Powered by Blogger.